Press "Enter" to skip to content

Debat bukan Perang Kata

Dalam beberapa bulan terakhir, mungkin juga sampai beberapa pekan ke depan, kata ‘debat’ menjadi perbincangan di kalangan publik. Terlepas dari siapa yang berdebat atau apa yang diperdebatkan, kata ‘debat’ sendiri seringkali mengundang perhatian banyak kalangan. Pasalnya, ketika mendengar istilah ‘debat’ maka yang langsung tergambar adalah ada dua pihak yang saling adu argumentasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘debat’ disebutkan adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Selain kamus, ada pula yang menyebutkan debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak. Menurut ensiklopedia bebas Wikipedia, definisi debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.

Apapun definisinya debat bisa ditemui dalam berbagai tingkat, dari mulai debat di sekolah, di kampus, di instansi tertentu sampai debat berskala nasional. Istilah debat secara formal tentu memiliki struktur dan tata tertib masing-masing. Pastinya, debat bisa berfungsi melatih mental dan keberanian, meningkatkan kemampuan solutif, memantapkan pemahaman konsep serta melatih sikap kritis.

Saat pelaksanaan debat pastinya juga ada etika atau norma yang selayaknya diikuti. Mulai dari penguasaan data, pertanyaan langsung menuju ke fokus permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan khusus, menghindari cara berpikir yang salah, tidak menyangkutpautkan prasangka emosional, dan menunjukkan sikap wajar.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, debat jelas menuntut pengetahuan yang baik dari pelakunya. Juga mempertimbangkan cara mengomunikasikan argumen atau persuasi, keterampilan dalam membuktikan celah, mengerti prinsip-prinsip dalam penyampaian persuasi dan penggunaan argumentasi dalam melemahkan pernyataan lawan, penyampaian pidato maupun argumentasi secara terarah, lancar, dan kuat, serta mengapresiasi fakta.

Debat, dengan segala macam bentuk, etika, dan normanya, mestinya mampu menelurkan solusi atas sebuah persoalan. Bukan sekadar saling perang kata, saling menuduh, saling membantah, atau malah saling mencela. Berdebat mestinya lebih menjadi perang solusi dengan argumentasi ketimbang sekadar perang mulut. Selanjutnya, biar audience memutuskan solusi mana yang terbaik. Debat, yang jelas, bukan seperti obrolan ahli medis dan kusir delman. #