Press "Enter" to skip to content

MRT Baru, (Jangan) Budaya Lama

Indonesia punya barang baru. Pertama kali sepanjang sejarah, setelah 74 tahun merdeka, Indonesa mampu meluncurkan Mass Rapid Transit (MRT), khususnya di Jakarta. Rencana pembangunan MRT di Jakarta sesungguhnya sudah dirintis sejak 1985. Namun, saat itu proyek MRT belum dinyatakan sebagai proyek nasional. Situs PT MRT Jakarta mengungkapkan pada 2005, Presiden Republik Indonesia menegaskan proyek MRT Jakarta merupakan proyek nasional.

Berangkat dari kejelasan tersebut, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai bergerak dan saling berbagi tanggung jawab. Desain teknis dan pengadaan lahan dilakukan pada 2008-2009, tender konstruksi dan tender peralatan elektrik serta mekanik pada tahun 2009-2010, sementara pekerjaan konstruksi dimulai pada tahun 2010-2014. Uji coba operasional rencananya dimulai pada 2014. Namun, jadwal tersebut tidak terpenuhi. Desain proyek yang sudah dilakukan mulai pada 2008-2009, akhirnya dimulai konstruksinya pada Oktober 2013. Joko Widodo (Jokowi), yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, melakukan groundbreaking dan menargetkan proyek itu rampung pada 2019.

Kini, MRT rampung. Joko Widodo pula, kali ini sebagai Presiden Republik Indonesia, yang meresmikan pengoperasiannya, Minggu 24 Maret 2019. Fase I MRT Jakarta total membentang sepanjang 16 kilometer, dari Stasiun Lebak Bulus sampai Stasiun Bundaran HI. Sepanjang 10 kilometer MRT layang (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja). Sisanya, sepanjang enam kilometer merupakan MRT bawah tanah (Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia). Stasiun awal dan akhir keberangkatan adalah Stasiun Lebak Bulus.

Saat melakukan uji coba, beberapa pekan sebelum peresmian, Presiden Jokowi mengatakan kehadiran MRT merupakan peradaban baru, budaya baru, bagi masyarakat. Budaya disiplin, antre, dan budaya keluar masuk gerbong kereta. Barang baru seperti MRT memang sudah seharusnya diikuti budaya baru. Mestinya, tak terlihat lagi penumpang berdesakan saat keluar masuk kereta. Tak terlihat lagi sampah bertebaran, juga perilaku seenaknya di dalam kereta tanpa mempedulikan kenyamanan dan keamanan penumpang lain.

Bukan cuma itu. Kehadiran MRT Jakarta ini jelas membutuhkan tenaga, pikiran, dan biaya yang tidak sedikit dengan total investasi mencapai Rp 16 triliun. Maka, menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk publik, untuk menjaga, merawat kelaikan dan kenyamanan juga keamanan MRT. Mestinya, tak terlihat lagi perilaku vandalisme, ‘coretan tak bertuan’ di kereta maupun di stasiun.

Seperti juga membangun MRT secara fisik, pembentukan budaya baru mungkin juga butuh waktu. Dan, tidak membiarkan rangkaian kereta dan stasiun tanpa penjagaan, barangkali bisa membantu sebagai langkah awal. Selain itu, publik pengguna MRT juga bisa menjadi ‘pengawas’ dengan memanfaatkan media sosial.

Publik di Indonesia tak sedikit yang pernah merasakan kenyamanan MRT di negara lain, termasuk di negara maju. Ketika menikmati kenyamanan MRT di negara lain itu, sadar atau tidak, publik Indonesia bisa mengikuti budaya disiplin, antre keluar masuk kereta. Kini setelah memiliki MRT di negeri sendiri, tak ada alasan bagi publik untuk tidak menerapkan budaya serupa. Kalau perlu ikut pula menularkannya secara luas.

Presiden Joko Widodo sudah meresmikan dimulainya pembangunan MRT Jakarta Fase II (Stasiun Bundaran HI menuju Kota, melewati Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, dan Glodok). Saat Fase II rampung, rasanya semua berharap budaya baru sudah pula mengakar. Kehadiran MRT Jakarta, yang disebut-sebut bakal menjadi model bagi MRT di daerah lain, bukan hanya mencerminkan upaya keras pemerintah membangun layanan transportasi publik. Kehadiran MRT selayaknya pula memotivasi publik agar lebih beradab, berbudaya. MRT adalah bukti nyata pembangunan. Saatnya move on dari budaya lama. #