Press "Enter" to skip to content

Jalan Tol Bebas Hambatan? Pikir Lagi

Jalan tol (dikenal juga sebagai jalan bebas hambatan) adalah suatu jalan yang dikhususkan untuk kendaraan bersumbu lebih dari dua (mobil, bus, truk) dan bertujuan untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain. Pengguna jalan tol harus membayar sesuai tarif yang berlaku. Penetapan tarif didasarkan pada golongan kendaraan. Bangunan atau fasilitas di mana pembayaran tol dilakukan sering disebut pintu tol atau gerbang tol.

Tidak semua jalan bebas hambatan memerlukan bayaran. Jalan bebas hambatan seperti ini dinamakan freeway atau expressway (free berarti ‘gratis’, dibedakan dari jalan-jalan bebas hambatan yang memerlukan bayaran yang dinamakan tollway atau tollroad). Di Indonesia pun, khususnya Jakarta, ada jalan freeway atau mungkin lebih akrab dengan istilah jalan layang non-tol, sering juga dibilang flyover karena berada di atas jalan reguler.

Bukan soal nama atau sebutan apapun, bukan juga soal tarifnya. Istilah ‘bebas hambatan’ itu justru jadi persoalan, terutama jalan yang harus membayar. Rasanya jarang terjadi, selesai membayar tol, pengguna jalan tol benar-benar bisa menikmati jalan bebas hambatan serta mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Hanya beberapa menit setelah membayar, hampir pasti ada hambatan yang bikin macet jalan tol. Entah itu perbaikan jalan tol, kecelakaan, atau sekadar banyaknya volume kendaraan. Tidak jarang juga terjadi, bahkan belum membayar tol saja sudah terimbas hambatan macetnya.

Bahkan ada jalan-jalan tol tertentu yang hampir pasti macet alias terhambat, tak perduli jam sibuk dan padat atau bukan. Papan informasi di jalan tol kerap memberitahukan kecepatan kendaraan rata-rata 20 kilometer sampai 30 kilometer per jam dari satu titik ke titik lain. Dan yang lebih membuat miris, rambu-rambu di sepanjang jalan tol jadi terasa menggelikan. Sebut saja misalnya rambu batas maksimum kecepatan 80 kilometer per jam dan kecepatan minimum 60 kilometer per jam. Semua pengguna jalan tol jelas melanggar rambu tersebut akibat kemacetan dengan kecepatan rata-rata 20 kilometer sampai 30 kilometer per jam.

Lihat juga rambu ‘Hati-hati Kendaraan Cepat dari Kiri’, padahal berkilometer sebelum dan sesudah rambu itu, macet alias tidak ada kendaraan cepat. Bertebaran pula rambu dilarang menggunakan bahu jalan. Faktanya, bahu jalan tol pun ikut disesaki kendaraan. Rambu-rambu di sepanjang jalan tol jadi seperti papan tak berarti. Rambu jelas diperlukan, tapi jadi terasa aneh kalau melihat kemacetan adalah fakta keseharian di jalan tol, yang seharusnya bebas hambatan, sesuai namanya. Belum lagi menghitung kualitas jalan yang terkesan pas-pasan, sering rusak berlubang atau bergelombang, dan butuh perawatan berulang, sehingga lagi-lagi menghadirkan hambatan (kemacetan) di jalan tol.

Sebagai konsumen, mestinya pengguna jalan tol bisa komplain, lantaran meski sudah membayar tapi tidak mendapat layanan yang ditawarkan; jalan bebas hambatan. Tapi sebagai bagian dari masyarakat, konsumen jalan tol mungkin maklum, pasrah, lantaran memang teramat sangat banyak volume kendaraan melintas di jalan tol. Barangkali pengelola jalan tol pun jadi ikut-ikutan pasrah dan cukup memasang papan informasi soal kecepatan rata-rata 20 kilometer sampai 30 kilometer per jam, karena jalan tol tersendat akibat perbaikan, perawatan atau apapun istilahnya. Kenapa harus pakai angka kecepatan rata-rata? Kenapa tidak terus terang saja sebutkan ‘macet’? Jalan tol adalah bebas hambatan? Coba pikirkan lagi.#